Rabu, 12 Desember 2018

Dampak Sosio Kultural serta Implikasi Manajemen Sosio Kultural Bisnis Kepariwisataan





EKONOMI MANAJEMEN PARIWISATA 
Dosen Pembimbing: Dr. I Made Suniastha Amerta, S.S.,M.Par


 

 
Oleh

Kelompok 12:
MARIA ROSLINDA SARA    (1531121003)
ALBERTANIA WOE WODA (1531121004) 

B2 




IESP
UNIVERSITAS WARMADEWA
DENPASAR
2018 


 


Dampak Sosio kultural

Secara teoritikal-idealistis, antara dampak sosial dan dampak kultural atau kebudayaan, dapat dibedakan. Namun demikian, Mathieson and Wall (1982:37) menyebutkan bahwa there is no clear distinction between social and cultural phenomena, sehingga sebagian besar ahli menggabungkan dampak sosial dan dampak budaya di dalam pariwisata ke dalam judul 'dampak sosial budaya' (The sosiocultural impact of tourism in a broad context).
Studi tentang dampak sosial kultural pariwisata selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial-kultural akibat kedatangan wisatawan, dengan tiga asumsi yang umum, yaitu: (Martin, 1998:171):

1. perubahan dibawa sebagai akibat adanya intrusi dari luar, umumnya dari sistem sosial-budaya  yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah.
2. perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous.
3. perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya, dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.

Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokkan dampak sosio kultural pariwisata ke dalam sepuluh kelompok besar, yaitu:

1                 1. dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat   yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya.
2                 2. dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat.
.                  3. dampak terhadap dasar-dasar organisasi/kelembagaan sosial.

4                4. dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata.

5                5. dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat.

6                6. dampak terhadap pola pembagian kerja.

7                7. dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial.
8         8.   dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan.
9               9. dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial. dan
1           10. dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.



 Sifat dan bentuk dari dampak sosial-kultural dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pitana (1999) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang ikut menentukan dampak sosial budaya tersebut adalah sebagai berikut:

1.    Jumlah wisatawan, baik absolute maupun relatif terhadap jumlah penduduk local.
2.    Objek dominan yang menjadi sajian wisata (the tourist gaze) dan kebutuhan wisatawan terkait dengan sajian tersebut.
3.    Sifat-sifat atraksi wisata yang disajikan, apakah alam, situs arkeologi, budaya  kemasyarakatan, dan seterusnya.
4.    Struktur dan fungsi dari organisasi kepariwisataan di Daya tarik wisata.
5.    Perbedaan tingkat ekonomi dan perbedaan kebudayaan antara wisatawan dengan masyarakat lokal.
6.    Perbedaan kebudayaan atau wisatawan dengan masyarakat lokal.
7.    Tingkat otonomi (baik politik, geografis, dan sumberdaya) dari daya tarik wisata.
8.    Laju/kecepatan pertumbuhan pariwisata.
9.    Tingkat perkembangan pariwisata (apakah awal, atau sudah jenuh).
10.    Tingkat pembangunan ekonomi Daya tarik wisata.
11.     Struktur sosial masyarakat local.
12.     Tipe resort yang dikembangkan
13.     Peranan pariwisata dalam ekonomi daya tarik wisata.  

McKean (1978: 94) menyatakan bahwa perubahan sosial ekonomi sedang terjadi di Bali terjadi secara bergandengan tangan dengan usaha konservasi kebudayaan tradisional. Pariwisata pada kenyataanya telah memperkuat proses konservasi, reformasi, dan penciptaan kembali berbagai tradisi. McKean menilai bahwa pariwisata secara selektif telah memperkuat tradisi lokal, melalui suatu proses yang disebut cultural involution (involusi kebudayaan). Stephen Langsing (1974) secara tegas mengatakan bahwa lembaga tradisional Bali mempunyai vitalitas dan kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi terhadap kondisi-kondisi baru.


    Implikasi manajemen dan memahami pendekatan dalam manajemen sosial kultural Bisnis kepariwisataan 



Dengan pengendalian dampak sosial kepariwisataan
Daya dukung (carrying capacity) sering dipandang sebagai alat pengelolaan (management tool) untuk melindungi situs dan sumber daya dari pemanfaatan yang berlebihan. Hall dan Page (2006:183) menyebutkan daya dukung sosial sebagai: “the ability of individuals and groups to tolerate others, their activities and the level of acceptability”

Sebagai kerangka pengendali dampak sosial kepariwisataan daya dukung sosial yang kemukakan dalam tulisan ini tidak sekedar sebagai ukuran maksimal dalam pemanfaatan sumber daya dan aktivitas kepariwisataan dalam melibatkan wisatawan dan masyarakat, tetapi sebagai ukuran maksimal keterlibatan masyarakat dan wisatawan dalam sebuah aktivitas wisata di sebuah area. 

          Daya dukung sosial ini dapat dijadikan sebagai kerangka dalam membatasi kontak sosial antara wisatawan dengan masyarakat, serta masyarakat dengan masyarakat dalam aktivitas kepariwisataan tentunya dengan mengacu kepada aturan dan norma yang berlaku dan tetap menjadikan pariwisata sebagai aktivitas yang inklusif. Kerangka daya dukung sosial ini sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pengembangan kepariwisataaan di suatu tempat. 

Kerangka daya dukung ini dapat disusun dalam kerangka pelibatan masyarakat dalam kepariwisataan (community-based tourism). Kerangka daya dukung ini dapat berupa:

1.       Zonasi dalam jenis usaha pariwisata di suatu daerah terutama yang berhubungan usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat lokal.
2.       Aturan baku dalam pelibatan masyarakat dalam aktivitas pariwisata seperti upacara keagamaan, adat pentas seni budaya. Aturan ini juga berfungsi sebagai aturan preventif dalam menghindari komodifikasi dan komersialisasi budaya.
3.       Batasan umur pekerja yang terlibat dalam usaha-usaha pariwisata
4.       Pengembangan area khusus rekreasi bagi masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan kepariwisataan. Kerap kali pembangunan infrastruktur pariwisata di suatu daerah menimbulkan konflik dengan warga sekitar akibat kenyamanan warga yang berkurang seiring dengan bertambahnya berbagai aktivitas di area, sementara masyarakat tidak dapat menikmati fasilitas tersebut.
5.       Pembinaan yang kontinyu dan konsisten terhadap masyarakat lokal tentang konsekuensi hadirnya kepariwisataan di suatu daerah dan hal-hal apa bisa dilakukan masyarakat. 

Suniastha (2017:22) di Desa wisata Jasri, Pengembangan pariwisata pedesaan identik dengan 
pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dengan memanfaatkan potensi kearifan lokal, 
berskala kecil, ramah lingkungan, dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,
baik secara ekonomi, sosial, dan budaya. Masyarakat lokal sebagai salah satu pemangku
kepentingan pariwisata memiliki peran yang sangat penting baik dalam perencanaan awal
maupun dalam pengembangan .

Selain itu dalam meminimalisir dampak sosial terdapat beberapa konsideran dalam menentukan ukuran-ukuran daya dukung sosial antara lain:
  1. Stabilitas politik dan keamanan setempat.
  2. Kontrol terhadap laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.
  3. Perlindungan terhadap cara hidup masyarakat lokal (preservation the way of life).
  4. Pembinaan dan pemberian pemahaman terhadap perbedaan budaya dan dampak yang mungkin ditimbulkan.
  5. Lapangan pekerjaan yang cukup bagi masyarakat lokal. 
 



 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar